Friday, December 22, 2006

Seorang Nabi Yang Menikahi Sang Dewi (Part I)

Bagaimana waktu mengatur manusia. Time may change me but I can’t change time, sahut David Bowie. Tapi aku berkata lain. Tentang sabda dan dogma-doma yang kebanyakan orang tertawakan. Aneh, mereka mau-maunya menerina dogma-dogma semit yang ditanam dari kecil, tetapi kala ada dogma lain yang lebih indah dan logis mereka menolaknnya. Haha. Aku hanya bisa tertawa.

Waktu itu tidak pernah ada memang, itu sudah menjadi teori klasik. Kesungguhanku dan kesungguhannya akan waktu berhenti di kamar 518 hotel itu. Prosesi pernikahan. Dua dewa sedang bersatu, dan pesan “Do not disturb” pun diggantung di daun pintu. Secara kasar artinya: “TOLONG JANGAN GANGGU KAMI! KITA MAO GITING LALU NGENTOT!” (hahaha…)

Itulah upacara kami dalam ruang beraroma ganja. Kegiatan paling sakral adalah ketika kami membasuh diri di dalam danau, saling melihat tubuh tanpa sehelai pun benang menutupi. Tengglam dalam air hangat. Bersihkan diri dari semua kotoran, karena prosesi ini amat sangat suci.

Pernikahan itu memang seharusnya dilakukan telanjang di depan altar, menurutku semua sapuan make-up pengantin wanita yang tebalnya sepeti kulit badak hanyalah legitimasi pretensi total sebelum pernikahan, sementara aku percaya kejujuran yang harus diutamakan dalam sucinya upacara pernikahan. Telanjang. Bersih. Di dalam air. Lihat ke atas, lihat ke cermin sebagai simbolisiasi persetubuhan. Memperbanyak jumlah manusia. God, Gods, Whoever… We love each other. That’s it. Gak perlu banyak embel-embel. Gak perlu menye-menye I will always love you bla bla bla yada yada yada… Cukup pernyataan cinta yang sesungguhnya nggak cukup digambarkan pake kata-kata apapun. Jadi pernyataan satu kalimat itu saja, cukup. Kami sudah menikah menurut agama kami ,maka kami tidak berzinah.

Tubuh kurus kami berdua muat dalam danau kecil berair panas itu. Lalu kami menghisap ganja dalam-dalam. Beberapa potret adegan terekam dalam ingatan dari berbagai angle indah, seperti ketika aku melihatnya menghisap ganja di danau itu (saat itu aku terbaring dari bawah kakinya), angle yang membuatnya terlihat besar dan berkuasa, sementara aku tidak berdaya. Lalu angle yang menghasilkan gambar simetris wajah dan kakiku dan tanganku menyentuh pusat hidupnya. Aku tersenyum. Dia melihat. Tersenyum mengagum aku. Perlahan aku berubah menjadi dewi. Satu per satu kulit kemanusiaanku terkelupas, terganti oleh kulit pualam sang dewi. Aku lebih banyak terdian dan tersenyum. Hmmm, semua ini terlalu indah untuk jadi kenyataan. Alam mimpi yang hadir dalam pusaka dunia. Semesta di luar sana pasti sedang gempar, karena seorang nabi sedang menikahi sang dewi.

No comments: