Wednesday, February 7, 2007

Di atas tubuhku
Terangkai muslihat dewa dewi
yang merangkai kata-kata dengan cermat
Tentang bagaimana warna-warni menyelimuti ruangan berbau dupa
yang sesungguhnya tidak ada
Hanya diatas tubuh
Bulir-bulir waktu terhenti dalam setiap telan tenggorokkan
kata demi kata terucap
Dalam bahasa
Yang hanya dimengerti oleh kita

Di atas tubuhku
Engkau merangkai karya

Saturday, January 6, 2007

Thera, Lelana, dan Pagina Yang Menumpuk

Dalam sebuah kuliah Pengantar Psikologi pada semester 2, aku menemukan cara dosen itu menirukan gaya-gaya orang, dia seperti actor atau standing comedian yang menirukan gerakan dan ucapan tokoh-tokoh dunia dengan sangat sempurna. Wajar, dia seorang psikoanalis yang terkenal. Dan aku beruntung mendapat Mata Kuliah yang diajar olehnya. Aku banyak belajar darinya, terutama tentang Hipnotisme dan mengelabui lie detector, baik yang elektronik maupun yang manual; penilaian manusia.

Bertahun-tahun kemudian, seorang gadis dengan mata binar tapi tajam, menoleh ke arahku dengan tatapan biasanya tetapi menusuk ke ujung terdalam jantungku. Apakah benar dia?

Beberapa jam kemudian, kami berbicara panjang tapi banyak tertahan oleh desisan manusia-manusia di sekitar kami. Jantungku seperti robek kembali, padahal bekas jahitan lama yang selama ini kupercaya cukup kuat menahan jantungku agar tak robek lagi, masih merekat erat.

Beberapa hari kemudian kami berdua berbincang lewat telepon. Berbincang tentang kami, hidup kami, kecintaan kami; pada musik (meskipun kemudian kuketahui bahwa selera kami pada musik berada pada wilayah yang berbeda), pada film, pada buku, pada romantisme.

Beberapa hari setelah itu kami bertemu dalam sebuah puncak. Setelah mendaki jalan yang begitu terjal, menukik, hingga licin dan sering kali kami nyaris terpeleset ke dalam jurang di sebelah kiri tebing menuju puncak itu.

Seminggu kemudian kami menikah.

*

“Aku sudah beristri, Terimakasih!” begitu kataku nanti pada wanita-wanita yang mungkin mengantarkan jutaan birahi padaku. Aku senang sekali bisa berkata seperti itu.

*

“Aku terus-terusan jatuh cinta sama kamu, maaf, sulit untuk berhenti.”

“Aku tak bisa melepas ingatan darimu, apalagi pandangan saat kita ketemu.”

*

Dengingan itu mulai menghilang meski pelan sekali. Aku tak sabar untuk segera tuli dari segala suara yang akan mengganggu meditasiku hari ini…

Wajahnya in-frame kedalam ingatanku, fade-in perlahan hingga begitu kentara, seperti di TV, dan lantas dia tiba-tiba benar-benar ada di depanku…seperti sebuah ledakan bom yang menggetarkan waktu…mewujud dari udara kosong membentuk keseluruhan wajah dan tubuhnya, tercipta senyum dari sapuan angin yang saat ini cukup ramah mencipta lekuk wajahnya hingga senyum termanisnya. Ah, para Dewa dan Tuhan cintaku, ini APA???

*

Kubisikan padanya sesuatu, jari-jariku kuselipkan di belakang telinganya sambil kugerakan mengikuti alur lekuk tengkorak kepala bagian belakangnya, lantas kuciumi bibirnya dengan sentuhan lidah seperti sentuhan kuas pada canvas, ludahku adalah cat yang diterjemahkan olehnya sebagai mesin tato, dan aku melukisi lidahnya dengan sapuan lidahku, mencampur warna-warna dengan ludahku, mentato bibirnya dengan jarum lidah yang tajam dan gigitan-gigitan kecilku, lembut…

Kami berdua menggelinjang dengan tiba-tiba bulu-bulu di kedua lengan berdiri satu-persatu, merinding…

Kami tersentak…

“Kamu merasakannya, sayang?”

“Ya, bulu-bulu tanganku merinding…bulu kudukmu?”

“Hanya bulu tangan, merinding…bulu kudukmu sendiri?”

“Sama, hanya bulu tangan, bulu kakimu?”

“Kucukur minggu lalu…”

“Aku Cinta Kamu!!! Dengan tiga tanda seru…”

“Maksudnya, tiga tanda seru? Symbol tiga syarat? Aku benci kenyamanan bersyarat.”

“Bukan, sayang, tiga tanda seru berarti aku sangat bersungguh-sungguh, tanda seru disini bukan menjadi perintah tetapi symbol dari sebuah penekanan, kedalaman sebuah kalimat, menandakan kesungguhan konteks nya.”

“Aku Cinta Kamu!!! Teks dan Konteks…”

“Teks dan Konteks…ya…AKU dan KAMU, KITA?”

“Ha.Ha.”

“Ha…ha…ha…”

*

Dia, seperti yang kulihat pertama kali, seperti menirukan seorang wanita yang selama ini menetap dalam kepalaku, seorang wanita yang pernah hadir dalam hidupku ribuan tahun yang lalu dalam dunia yang sama sekali berbeda. Saat itu dia meninggalkanku dengan alasan kami berdua akan ketemu lagi nanti, nanti yang kemudian menjadi bertahun-tahun, berabad-abad hingga millennium hingga saat ini, dan dia hanya mengingat sedikit tentang kebersamaan kami di masa lalu itu. Tapi intuisiku berkata memang dia adalah wanita itu. Dan aku sangat percaya dengan hal itu.

*

Mungkin dia seorang agen yang mendapat tugas untuk memata-mataiku, segala hal yang aku suka, dia juga suka. Banyak hal yang aku tahu, dia juga tahu. Apalagi tentang selera, hampir mirip (kecuali kemudian musik). Dan satu hal lagi, segala yang aku inginkan dari seorang wanita, semuanya ada padanya. Aneh bukan?

Hanya satu yang aku tidak suka padanya, dan hal inilah yang menggugurkan dugaanku bahwa dia agen, dia pemakan daging babi, dan aku benci pemakan daging babi.

*

Dia diutus Utopia untuk menemuiku, begitu katanya suatu waktu. Aku diutus Utopia untuk menyampaikan sesuatu padamu. Lantas dia menyerahkan sebuah bungkusan yang kemudian menjadi trigger penyatuan tubuh kami dalam sebuah pernikahan sakral diatas tanah suci yang hadir di mimpi pertama kami.

Pernikahan yang kemudian melahirkan seorang Shaman sekaligus Nabi untuk memerdekakan manusia dari penjajahan keinginan.

Anak yang kemudian akan berkata, tak ingin aku untuk ingin sebab diantara seribu keinginan, hanya satu yang sejati…

*

To be continued

Thursday, January 4, 2007

pesan singkat ditengah badai kerinduan yang tak tertahankan

"tiga juta tahun yg lalu, saat kau msh berwujud oak dan aku brich, kamu pnah blg klo km ingin sekali peluk aku, peluk skr aja, jiwaku kedinginan akibat badai kangen"

"Kupeluk kau sayang. Rasakan hangat jiwaku menelan setiap dingin yg diciptakan rindu. Nanti mlm online yuk..."

"Writer's block nih, butuh segumpal ciuman panjang sampai menggelinjang utk melancarkan kembali peredaran darah di otak"

"Kukirim pelukan beserta ciuman panjang untuk suamiku. Smoga ciuman ini bs menghasilkan anak2 karya kita berdua... I love u... Mmmmmmmwwwaaaahhhh...."

"Aku Kangen, ingin sapa km lewat puisi tp tak ada satu kata pun yg bs gambarin kangenku buat km. bawa aku bergi dr sini, syg!"

"Aku sdang mncari tahu, species brich apa kmu itu 3 juta thn yg lalu... Trnyata kmu paper brich (betula papyrifera) kamu pioneer species, sahabat para native american"

Monday, January 1, 2007

bersamamu di Malam Tahun Baru

Ledakan api di langit
Berbunga-bunga berpercik cahaya
Aku melihat serangkaian dandelion di udara yang dipenuhi asap
Biru dan merah bersatu
Sesekali kulihat kuning dan putih
Mawar mendominasi
Bunga-bunga bercahaya itu sesaat menjadi sungai susu berbintang

Monday, December 25, 2006

5 Pertanyaan

1. Mimpi malam nanti?
2. Sentuhan2ku adalah?
3. Menikah denganku rasanya?
4. Rumah kita berada di?
5. Tuhan adalah?
-T-
============================
1. Kegamangan yang sempurna.
2. Cinta.
3. Hati yang penuh.
4. Kereta kencana.
5. Awan2 gelap barangkali.

-ERV-

Friday, December 22, 2006

Seorang Nabi Yang Menikahi Sang Dewi (Part I)

Bagaimana waktu mengatur manusia. Time may change me but I can’t change time, sahut David Bowie. Tapi aku berkata lain. Tentang sabda dan dogma-doma yang kebanyakan orang tertawakan. Aneh, mereka mau-maunya menerina dogma-dogma semit yang ditanam dari kecil, tetapi kala ada dogma lain yang lebih indah dan logis mereka menolaknnya. Haha. Aku hanya bisa tertawa.

Waktu itu tidak pernah ada memang, itu sudah menjadi teori klasik. Kesungguhanku dan kesungguhannya akan waktu berhenti di kamar 518 hotel itu. Prosesi pernikahan. Dua dewa sedang bersatu, dan pesan “Do not disturb” pun diggantung di daun pintu. Secara kasar artinya: “TOLONG JANGAN GANGGU KAMI! KITA MAO GITING LALU NGENTOT!” (hahaha…)

Itulah upacara kami dalam ruang beraroma ganja. Kegiatan paling sakral adalah ketika kami membasuh diri di dalam danau, saling melihat tubuh tanpa sehelai pun benang menutupi. Tengglam dalam air hangat. Bersihkan diri dari semua kotoran, karena prosesi ini amat sangat suci.

Pernikahan itu memang seharusnya dilakukan telanjang di depan altar, menurutku semua sapuan make-up pengantin wanita yang tebalnya sepeti kulit badak hanyalah legitimasi pretensi total sebelum pernikahan, sementara aku percaya kejujuran yang harus diutamakan dalam sucinya upacara pernikahan. Telanjang. Bersih. Di dalam air. Lihat ke atas, lihat ke cermin sebagai simbolisiasi persetubuhan. Memperbanyak jumlah manusia. God, Gods, Whoever… We love each other. That’s it. Gak perlu banyak embel-embel. Gak perlu menye-menye I will always love you bla bla bla yada yada yada… Cukup pernyataan cinta yang sesungguhnya nggak cukup digambarkan pake kata-kata apapun. Jadi pernyataan satu kalimat itu saja, cukup. Kami sudah menikah menurut agama kami ,maka kami tidak berzinah.

Tubuh kurus kami berdua muat dalam danau kecil berair panas itu. Lalu kami menghisap ganja dalam-dalam. Beberapa potret adegan terekam dalam ingatan dari berbagai angle indah, seperti ketika aku melihatnya menghisap ganja di danau itu (saat itu aku terbaring dari bawah kakinya), angle yang membuatnya terlihat besar dan berkuasa, sementara aku tidak berdaya. Lalu angle yang menghasilkan gambar simetris wajah dan kakiku dan tanganku menyentuh pusat hidupnya. Aku tersenyum. Dia melihat. Tersenyum mengagum aku. Perlahan aku berubah menjadi dewi. Satu per satu kulit kemanusiaanku terkelupas, terganti oleh kulit pualam sang dewi. Aku lebih banyak terdian dan tersenyum. Hmmm, semua ini terlalu indah untuk jadi kenyataan. Alam mimpi yang hadir dalam pusaka dunia. Semesta di luar sana pasti sedang gempar, karena seorang nabi sedang menikahi sang dewi.

Wednesday, December 20, 2006

Sahabat/Kekasih? he.he.

Mengenai dilema mu itu, Princess...tak perlu kau cemas sebab aku sungguh akan sangat flexible tentang masalah ini, gak akan kuperumit, apalagi membuat kamu bingung harus menentukan...
Aku bisa menjadi teman siapa saja, Horn, meski dia benci sekali pun padaku...
sebab hal yang paling penting dan paling kuingat saat ini adalah
AKU SUNGGUH SANGAT MENCINTAIMU...
dan tentu saja gak ada satu halpun, sebesar apapun, yang bisa menggoyahkan keutuhan ini...
dan hal itu hanya ditentukan oleh satu hal, KEYAKINAN...
jadi, tenang saja cawan merahku...lakukan apapun yang menurutmu terbaik untuk kamu lakukan, dan itu sudah cukup baik untukmu...

LOVE
(ER)