Bertahun-tahun kemudian, seorang gadis dengan mata binar tapi tajam, menoleh ke arahku dengan tatapan biasanya tetapi menusuk ke ujung terdalam jantungku. Apakah benar dia?
Beberapa jam kemudian, kami berbicara panjang tapi banyak tertahan oleh desisan manusia-manusia di sekitar kami. Jantungku seperti robek kembali, padahal bekas jahitan lama yang selama ini kupercaya cukup kuat menahan jantungku agar tak robek lagi, masih merekat erat.
Beberapa hari kemudian kami berdua berbincang lewat telepon. Berbincang tentang kami, hidup kami, kecintaan kami; pada musik (meskipun kemudian kuketahui bahwa selera kami pada musik berada pada wilayah yang berbeda), pada film, pada buku, pada romantisme.
Beberapa hari setelah itu kami bertemu dalam sebuah puncak. Setelah mendaki jalan yang begitu terjal, menukik, hingga licin dan sering kali kami nyaris terpeleset ke dalam jurang di sebelah kiri tebing menuju puncak itu.
Seminggu kemudian kami menikah.
*
“Aku sudah beristri, Terimakasih!” begitu kataku nanti pada wanita-wanita yang mungkin mengantarkan jutaan birahi padaku. Aku senang sekali bisa berkata seperti itu.
*
“Aku terus-terusan jatuh cinta sama kamu, maaf, sulit untuk berhenti.”
“Aku tak bisa melepas ingatan darimu, apalagi pandangan saat kita ketemu.”
*
Dengingan itu mulai menghilang meski pelan sekali. Aku tak sabar untuk segera tuli dari segala suara yang akan mengganggu meditasiku hari ini…
Wajahnya in-frame kedalam ingatanku, fade-in perlahan hingga begitu kentara, seperti di TV, dan lantas dia tiba-tiba benar-benar ada di depanku…seperti sebuah ledakan bom yang menggetarkan waktu…mewujud dari udara kosong membentuk keseluruhan wajah dan tubuhnya, tercipta senyum dari sapuan angin yang saat ini cukup ramah mencipta lekuk wajahnya hingga senyum termanisnya. Ah, para Dewa dan Tuhan cintaku, ini APA???
*
Kubisikan padanya sesuatu, jari-jariku kuselipkan di belakang telinganya sambil kugerakan mengikuti alur lekuk tengkorak kepala bagian belakangnya, lantas kuciumi bibirnya dengan sentuhan lidah seperti sentuhan kuas pada canvas, ludahku adalah cat yang diterjemahkan olehnya sebagai mesin tato, dan aku melukisi lidahnya dengan sapuan lidahku, mencampur warna-warna dengan ludahku, mentato bibirnya dengan jarum lidah yang tajam dan gigitan-gigitan kecilku, lembut…
Kami berdua menggelinjang dengan tiba-tiba bulu-bulu di kedua lengan berdiri satu-persatu, merinding…
Kami tersentak…
“Kamu merasakannya, sayang?”
“Ya, bulu-bulu tanganku merinding…bulu kudukmu?”
“Hanya bulu tangan, merinding…bulu kudukmu sendiri?”
“Sama, hanya bulu tangan, bulu kakimu?”
“Kucukur minggu lalu…”
“Aku Cinta Kamu!!! Dengan tiga tanda seru…”
“Maksudnya, tiga tanda seru? Symbol tiga syarat? Aku benci kenyamanan bersyarat.”
“Bukan, sayang, tiga tanda seru berarti aku sangat bersungguh-sungguh, tanda seru disini bukan menjadi perintah tetapi symbol dari sebuah penekanan, kedalaman sebuah kalimat, menandakan kesungguhan konteks nya.”
“Aku Cinta Kamu!!! Teks dan Konteks…”
“Teks dan Konteks…ya…AKU dan KAMU, KITA?”
“Ha.Ha.”
“Ha…ha…ha…”
*
Dia, seperti yang kulihat pertama kali, seperti menirukan seorang wanita yang selama ini menetap dalam kepalaku, seorang wanita yang pernah hadir dalam hidupku ribuan tahun yang lalu dalam dunia yang sama sekali berbeda. Saat itu dia meninggalkanku dengan alasan kami berdua akan ketemu lagi nanti, nanti yang kemudian menjadi bertahun-tahun, berabad-abad hingga millennium hingga saat ini, dan dia hanya mengingat sedikit tentang kebersamaan kami di masa lalu itu. Tapi intuisiku berkata memang dia adalah wanita itu. Dan aku sangat percaya dengan hal itu.
*
Mungkin dia seorang agen yang mendapat tugas untuk memata-mataiku, segala hal yang aku suka, dia juga suka. Banyak hal yang aku tahu, dia juga tahu. Apalagi tentang selera, hampir mirip (kecuali kemudian musik). Dan satu hal lagi, segala yang aku inginkan dari seorang wanita, semuanya ada padanya. Aneh bukan?
Hanya satu yang aku tidak suka padanya, dan hal inilah yang menggugurkan dugaanku bahwa dia agen, dia pemakan daging babi, dan aku benci pemakan daging babi.
*
Dia diutus Utopia untuk menemuiku, begitu katanya suatu waktu. Aku diutus Utopia untuk menyampaikan sesuatu padamu. Lantas dia menyerahkan sebuah bungkusan yang kemudian menjadi trigger penyatuan tubuh kami dalam sebuah pernikahan sakral diatas tanah suci yang hadir di mimpi pertama kami.
Pernikahan yang kemudian melahirkan seorang Shaman sekaligus Nabi untuk memerdekakan manusia dari penjajahan keinginan.
Anak yang kemudian akan berkata, tak ingin aku untuk ingin sebab diantara seribu keinginan, hanya satu yang sejati…
*
No comments:
Post a Comment