Sunday, December 17, 2006

Bumi dan Angin Yang Menjelma Menjadi Manusia

Membahas ketuhanan seperti satu persatu lautan di dalamnya mulai terpecah ke dalam partikel-partikel kecil yang sedikit berawan. Aku dan kamu di seberang sana, terjalin hubungan cinta oleh kabel telepon. Bercerita hingga subuh dan sore dan kembali ke malam. Memori itu terpecah-pecah walaupun percakapan baru saja terjadi kemarin.

Kekasihku mengajariku bagaimana menyikapi robot-robot yang bergerak seperti mesin. Seperti “Clockwork Orange”. Tahukah kau kenapa Anthony Burgess menamai novelnya “A Clockwork Orange”? Clockwork adalah mesin jam yang gigi-giginya saling menyambung menjalin seperti mesin yang terus bekerja. Orange adalah buah jeruk yang ranum, manis segar, penuh vitamin, hidup… dan kata ‘orange’ juga memiliki kemiripan dengan kata dalam bahasa Malay yaitu 'orang' yang berarti manusia (Burgess pernah tinggal di Malaya pada masa kependudukan Inggris [Hey teman-teman, banggalah karena bahasa kita dipakai penulis sehebat Burgess ke dalam karyanya]). "Clockwork Orange" menunjukkan bagaimana manusia itu sesungguhnya selayaknya buah jeruk, hidup, ranum, segar, dan nyata. Tapi seringkali dalam kesungguhan dunia, manusia adalah ‘clockwork’, terkontrol dan diatur oleh sistem seperti layaknya sebuah mesin.

“Maklumilah dan kasihanilah, karena mereka adalah sebuah korban dari sistem yang lebih kejam dari perang”, katanya. "Jangan pedulikan. Kau terlalu indah untuk merendahkan martabatmu bagi orang-orang seperti itu bila kau melawan dogma-dogma mereka", komemtarnya ketika aku sedang ngomel perihal mantan pacarku yang menyebalkan. Aku kemudian tersenyum dan mendengarkan ceramahnya. Kata-katanya yang bersemangat selalu berhasil membuat hati dan emosiku yang meluap-luap menjadi seperti sungai yang mengalir mengikuti arus. Tidak dingin seperti es yang sinis, tidak lagi panas seperti magma. Tapi gunung penuh rasa dan luapan ini meledak sejak aku bertemu dia. Lava nya panas dan membakar, tapi bercahaya dan indah.

Keesokkan harinya kita mulai mebahas konsep ketuhanan yang begitu indah. Jadi teringat akan kata-katamu kala kau mengaku berprofesi sebagai ‘prophet’, “karena nabi adalah profesi paling tinggi di dunia”. Dan ketuhanan yang kau ciptakan adalah ketuhanan yang mendamaikan semua ideologi, religi, perseteruan kepercayaan yang pernah ada. Kau ingin mengawinkan dewa-dewa dengan Tuhan yang Esa, memaksanya duduk di satu meja dan berdialog kala berbagi ganja, ambrosia, dan anggur perjamuan kudus. Mencitakan kedamaian spiritual bagi siapa saja yang mau percaya.

Aku membaca beberapa bagian dari Kidung Agung di Perjanjian Lama yang romantis, dan dia berbicara tentang Al’Quran yang megah. Kita berbagi dua keindahan yang selama ini sering disembunyikan, seperti para nabi semit yang mungkin menyembunyikan beberapa fakta tentang Tuhan yang umatnya tidak perlu ketahui. Tolong jangan serang aku dengan dogma-doma melelahkan itu, teman-teman! Ingatlah bahwa aku hanya memakai kata “mungkin”. Unlimited "If", unlimited possibilities. Tulisan ini intuitif seperti percintaan kami dan penuh spekulasi seperti layaknya manusia yang sangat manusiawi.

Percintaan ini adalah pertukaran otak dua manusia gila yang tidak sengaja terdampar di tempat yang sama. Di perbatasan antara mimpi dan rasionalitas. Di perbatasan antara monotheisme dan pemujaan banyak dewa. Di antara Bjork dan The Doors. Di antara rumah dan angkasa. Di antara bumi dan roh angin yang sedang mengelana. Percintaan ini adalah percintaan antar dua dewa dari alam yang berbeda, yang sedang menjelma jadi manusia.


Mother Earth

Bekasi, 17 Desember 2006

1 comment:

... Ruhlelana said...

I will see you in the next life...